Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2015

Cerpen "Karena yang Baik Bakal Kalah Sama yang Serius"

“Dan Akhirnya.....”
“Kita putus ya..”
Seketika dunia Sella berubah, ia tak lagi seceria biasanya. Yap! Viky telah meninggalkannya. Setelah beberapa bulan Sella berpacaran dengan Viky, namun dengan alasan ketidakcocokan maka mereka pun akhirnya putus. Tentu Sella merasakan sakit yang amat dalam, karena apa? Viky telah dikenalnya sejak dulu, sejak mereka masih bocah SMP. Teman yang sangat sering menemani hari-hari SMPnya dan telah dipercayainya untuk jadi pacar.
            Sella pun mencoba menjalani hari-harinya dengan biasa, mencoba untuk melupakan segala sesuatu tentang Viky (baca:Move On) walaupun ia tau itu sulit. Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Sella yang bersekolah disebuah SMK negeri yang cukup ternama dikotanya itu merupakan murid kelas 11. Ia memang berpisah sekolah sama Viky semenjak lulus SMP, Viky memilih untuk masuk SMK swasta, sedangkan Sella SMK negeri. Dan dengan berjalannya waktu setelah mereka lulus SMP itupun timbul benih-benih cinta yang akhirnya menyatukan mereka, namun sekarang semua hanya tinggal kenangan. Sella mempunyai sahabat bernama Deva, Deva merupakan teman sebangku Sella sejak mereka masuk SMK tersebut, mereka sama-sama memiliki kemampuan otak yang bisa dibilang pas-pasan, untuk itu mereka memilih jurusan “Perhotelan” yah, cukuplah untuk jadi tukang bersih-bersih. Deva merupakan anak broken home, dan terbilang kurang perhatian dari mamanya, walaupun ia tinggal bersama mamanya namun mamanya telah menikah lagi. Yap Deva tinggal bersama mama kandung dan papa tirinya. Untuk itu Deva mempunyai teman-teman luar yakni para pengamen jalanan yang sangat memiliki jiwa persaudaraan yang tinggi dan dirasa Deva ia bisa menghilangkan beban pikirannya tentang masalah keluarga jika berkumpul bersama para pengamen tersebut.
∞∞∞
Liburan sekolah pun tiba..
            Deva mengajak sahabatnya Sella untuk pergi berlibur kesebuah pulau tetangga, yakni “Uban”. Selama sehari mereka menginap dirumah salah satu teman mereka yaitu Vita. Disana ternyata juga banyak teman-teman Deva yang merupakan pengamen jalanan tersebut. Yah.. sekalian silaturahmilah. Mereka pun jalan-jalan keliling Uban seharian, tak hanya jalan-jalan namun mereka juga pergi ke pemakaman, ke makam salah satu teman Deva yang meninggal setahun yang lalu. Saat mereka ziarah ke makam tersebut, mereka bertemu dengan 3 cowok yang baru saja pulang ziarah, mereka adalah Lingga, Revan, Anton. Ada satu hal yang menarik perhatian Sella, yakni cowok bernama Revan. Cowok yang memiliki tinggi serta postur badan yang ideal, serta rambut mowhak dengan memiliki tompel dipipi kirinya. Meskipun Revan termasuk pengamen jalanan, namun ia memiliki penampilan yang rapi, sehingga membuat Sella terkesima. Revan pun memberikan senyum termanisnya untuk Sella dan Deva. Hal ini tentu membuat Sella jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah berkenalan dan bercengkrama akhirnya Sella tau bahwa cowok yang buatnya tersipu itu bernama “Revan”. Dan tak terasa pertemuan mereka itu terpisahkan oleh waktu karena Sella dan Deva mesti pulang ke Batam. Sella pun hanya bisa mengenang pertemuan itu dan berpikir kapan ia bisa melihat Revan lagi. Toh mereka bertemu secara tidak sengaja dan dalam waktu yang singkat.
∞∞∞
From: 085664721990
Ini Sella ya?
 
            Hari-hari Sella pun berjalan seperti biasanya. Tiada something special. Sekolah ia jalani dengan biasanya, canda tawa bersama teman-teman sejawatnya. Hingga setelah beberapa minggu berlalu pasca liburannya ke Uban kemarin, Sella menerima pesan singkat (baca:SMS) dari nomer yang tak dikenalnya.


Maaf ini siapa?
 
Sella pun spontan membalas isi pesan singkat tersebut.

From: 085664721990
Ini Revan yang kemaren kita ketemu di pemakaman. Masih ingat kan?
 
Rasa penasaran pun menyelimuti hati Sella, karena tak biasanya ada nomer yang tak dikenal masuk ke handphonenya, apalagi semenjak putus dengan Viky. Karena biasanya handphonenya hanya berdering jika telepon atau sms dari Viky dan sahabatnya Deva. Dengan begitu menimbulkan rasa heran dalam diri Sella, pikirannya menerka-nerka entah kemana. 1 nama yang ada dipikirannya, mungkinkah itu Viky? Maklumlah semenjak putus Sella dan Viky lost contact. Hal ini sengaja dilakukan oleh Sella untuk mempercepat proses move on. Tak lama kemudian handphone Sella pun bergetar kembali. Secepat mungkin ia membuka isi pesan tersebut.



Sella sontak kaget membaca pesan sms tersebut, hatinya berbunga-bunga.
“Revan sms gue? OMG.. mimpi apa gue semalem?”, pikirnya dalam hati.
Dengan sigap jari-jemari Sella telah bermain dikeyboard handphonenya.
Hehe, iya masih ingat kok Van.
Hehe btw apa kabar?
 
 



Rada garing sebenarnya pertanyaan itu, tapi mau gimana lagi. Sella bingung mau bilang apa lagi. Dan tak terasa berjam-jam mereka saling berbalas pesan. Hal ini mereka lakukan setiap hari dan tentu saja ini menimbulkan benih-benih cinta bagi kedua belah pihak. Bulan pun berganti, kedekatan mereka bukanlah kedekatan biasa sebagai teman namun telah berganti dengan rasa sayang.
∞∞∞
            Setelah 3 bulan mencoba mengenal satu sama lain tepat di ulang tahun Sella tanggal 01 Desember Revan pun menyatakan rasa yang selama ini ada dihatinya. Ia ingin dihari special bagi Sella itu juga menjadi hari special bagi mereka berdua. Sella pun tidak perlu pikir panjang untuk menjawab ungkapan hati Revan karena ia juga merasakan rasa yang sama. Yap, ia juga sayang Revan!.
            Terhitung sejak tanggal 01 Desember tersebut, status mereka tak lagi sebagai teman, namun sebagai pacar. Dan inilah salah satu bukti move onnya Sella dari Viky. Terhapuslah sudah kenangan masa lalunya bersama Viky dan berganti dengan cerita baru Sella dan Revan yang jauuuuuuuuh lebih indah ketika bersama Viky. Deva yang mendengar kabar tentang berpacarannya 2 sahabatnya itu tentu senang bukan kepalang. Tidak disangka pertemuan mereka yang hanya beberapa jam itu alias sekilas menimbulkan efek yang sangat penting dalam hidup Sella. Semenjak itu tiap ada waktu luang Sella dan Deva menyempatkan diri untuk berkunjung ke Uban sekaligus berakhir pekan. Disana mereka main kepantai, makan bareng, nongkrong bareng dan menggila bareng. Sungguh bahagia yang Sella rasakan kini, tiada lagi rasa galau, mellow dan sedih yang dulu sempat ia rasakan setelah putus dari Viky.
∞∞∞
Kelulusan pun tiba...

Sella mencoba untuk serius belajar guna menghadapi UN yang telah didepan mata. kenapa demikian? Karena Sella merasa ia belom siap untuk menghadapi ujian akhir tersebut. Revan sebagai pacar Sella hanya bisa memberi semangat untuknya. Maklum saja Revan telah putus sekolah sejak setahun yang lalu. Setelah 4 hari berkutat dengan ujian materi pokok yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika serta Pelajaran Kejuruan Perhotelan rasa lega pun timbul dihati Sella. Walupun ia belum tau bagaimana hasilnya. Karena ia rasa apa yang ia kerjakan itu bukan yang terbaik tapi udah sesuai banget dengan kemampuannya. Yah, apapun hasilnya ia pasrah. Yang jelas ia pengen “LULUS” dan gak ngecewain orang tuanya. Ia berharap dengan bekal pelajaran kejuruannya selama 3 tahun tersebut dapat mendapatkan tempat yang menjanjikan saat kerja nanti. But, it’s just a dreams! Sella ingin menikmati libur yang panjang dahulu setelah tamat sekolah, kemudian baru ia mencari kerjaan. Sella bukanlah tipe anak yang terlalu rajin, buktinya saja dahulu saat SMP ia pernah tidak naik kelas setahun. Sungguh pengalaman yang menarik bukan? Iya menarik sekaligus meninggalkan luka dan malu mendalam. Liburan menunggu hasil UN adalah hari-hari yang panjang bagi Sella, ya! Liburan selama hampir 2 bulan. Hal ini pun ia manfaatkan untuk ketemu dengan pujaan hatinya Revan. Kali ini Sella tidak berangkat dengan Deva melainkan ia memberanikan diri untuk berangkat sendiri ke Uban demi menemui Revan. Sebenarnya Sella ini merupakan tipe anak penakut alias tidak pemberani, maklumlah ia bukan seperti teman-temannya yang suka jalan kemana-mana. Mungkin inilah yang dinamakan pengorbanan cinta, Sella pun rela membohongi kedua orang tuanya demi menemui Revan. Pertemuan Revan dan Sella kali ini menghadirkan moment-moment so sweet yang tak akan terlupakan bagi keduanya. Revan mengajak Sella untuk jalan-jalan menikmati malam minggu berdua menggunakan sepeda motor, mereka berencana untuk pergi keluar Uban. Mereka tidak hanya menghabiskan malam dengan canda tawa, mereka makan sate ayam bareng, melihat pemandangan pantai bareng. Pokoknya semua hal mereka lewati berdua. Dan tak terasa jam telah menunjukkan pukul 22.00. Mereka pun bersiap untuk pulang ke Uban karena malam mulai sepi. Saat perjalanan pulang ke Uban, hujan lebat pun melanda. Angin bertiup kencang, gelombang memecah kesunyian, serta hujan mengguyur dengan dahsyatnya. Karena sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan pulang maka mereka pun berhenti disebuah warung yang pemiliknya sudah menutup warung tersebut karena sudah malam. Diteras warung yang berukuran ±4 X 4 meter itu mereka berteduh. Dingin menyeruak dibadan kedua pasangan ini. Pohon-pohon bergerak kesana-kemari menandakan kuatnya terpaan angin yang menerjangnya itu menambah kelamnya malam. Setelah beberapa menit berteduh sang pemilik warung itupun keluar dan terkejut melihat dua sepasang anak manusia yang tengah berdiri terpaku menatap air yang turun. Sang pemilik warung itupun kemudian mengajak Sella dan Revan untuk masuk kerumahnya, karena udara diluar rumah sangat dingin dan hujan pun tempias ke teras rumahnya. Suami istri pemilik warung ini merupakan orang yang baik, mereka memperlakukan Sella dan Revan seperti anaknya sendiri. Setelah mempersilahkan duduk, sang Ibu pemilik warung pun menyediakan dua cangkir kopi hangat untuk Sella dan Revan, ia mengerti bahwa dua sejoli ini tengah kedingingan. Tidak hanya itu, mereka juga menawarkan Sella dan Revan untuk menginap di warung sekaligus rumah kecil mereka itu guna beristirahat karena hujan diluar tak kunjung reda. Namun Revan dan Sella merasa tidak enak hati, maka mereka pun menolak tawaran kedua suami istri tersebut, mereka tidak ingin merepotkan. Mereka pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Uban dalam kondisi hujan yang masih turun dengan derasnya. Pasangan suami istri itu memberikan jas hujan bekas dan kantong plastik besar guna perlindungan Revan dan Sella diperjalanan, dengan modal nekat mereka pun meninggalkan warung tersebut serta mengucapkan terima kasih yang sangat banyak kepada kedua orang tua pemilik warung tersebut. Mereka melintasi jalan yang sunyi dan sepi ditemani guyuran derasnya hujan dan gelombang laut yang menderu ke daratan hingga tiba ke aspal tempat sepeda motor Revan melaju.




Bersambung.........

Sabtu, 21 Maret 2015

Cerpen "Tekad Pemuda Kecil"

“Tekad Pemuda Kecil”
            Teriknya matahari tidak menghalangi langkah Toni keluar dari rumahnya. Kebiasaannya sepulang sekolah berjualan koran di Kota, tepatnya di persimpangan lampu merah untuk membantu beban ibunya yang telah tinggal sendiri sedangkan adiknya ada 2 orang.
            “Mudah-mudahan habislah koran kujual hari ini”,  bisiknya dalam hati.
            “Berangkat dulu ya bu”, ia permisi pada ibunya.
            Ia pun berjalan menyusuri sepanjang jalan sambil berkata “Koran-koran, dibeli Pak”, begitulah pintanya.
            Akhirnya ia memutuskan untuk pulang, dengan sisa-sisa tenaganya ia kembali menyusuri jalan untuk pulang, melewati jembatan yang sebenarnya tidak layak untuk dilewati dan dipakai. Jembatan itu nyaris putus. Toni memiliki tekad untuk bisa mendirikan jembatan yang layak menuju desanya dengan caranya sendiri. Mengapa demikian? Karena ia tau bahwa jembatan itu merupakan fasilitas satu-satunya sebagai penghubung antar desanya dengan kota tempat warga desanya mencari nafkah, bersekolah serta beraktifitas. Dengan penuh tertatih dan teliti ia meniti jembatan itu hingga tiba di seberang, ya ia telah tiba di desanya. Kemudian ia berjalan jauh dan melewati gang-gang sempit, ia pun tiba di sebuah rumah yang terbuat dari tumpukkan koran bekas. Dan rumah itu merupakan rumah Toni. Rumahnya sangat sederhana, sehingga tidak layak lagi dikatakan rumah. Tetapi bagi Toni dan keluarganya, itu merupakan istana mereka. Tempat mereka melepas lelah dan mereka juga sudah cukup bahagia tinggal di rumah itu.
            Dan ternyata benar, ketika Toni telah sampai di depan rumah. Ibu dan adik-adiknya telah menunggu kepulangannya.
            “Maaf bu, koran hari ini belum bisa kujual habis.” Ucapnya lirih dengan nada sedih.
            “Tidak apa-apa nak pasti lain kali kamu  bisa menjualnya hingga habis”, ujar ibunya memberi semangat.
            Seusai itu Toni pun hendak bergegas pergi ke empang. Ia menyusuri sepanjang sungai yang terletak di desa itu, kemudian ia pun mandi.
            Setibanya ia di rumah, didapatinya sang ibu sedang mempersiapkan makan malam, sungguh miris sekali, mereka hanya dapat makan nasi jagung dan beberapa ubi rebus. Tetapi itulah yang dapat mereka rasakan. Dapat makan sekali dalam sehari itu sudah dapat mengenyangkan perut mereka. Maklumlah, ibu Toni hanya seorang buruh tani yang bekerja di ladang milik tuannya. Ayah Toni telah meninggal sejak Toni duduk dibangku kelas 6 SD karena mengidap penyakit kanker paru-paru stadium 3. Toni dikenal oleh warga desanya sebagai anak yang aktif dalam pembangunan desa, pintar dalam pendidikan, rajin, patuh dan pantang menyerah dalam menghadapi kehidupan, walaupun ia baru duduk dikelas 10 ia telah menjadi tulang punggung keluarga. Ia membantu menyekolahkan adik-adiknya, walaupun ia harus berada di pinggiran jalan melawan debu, dan teriknya matahari. Ia rela... hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk membantu ibunya serta memuwudkan mimpinya membangun jembatan untuk desanya tersebut.
            Suatu hari Toni pulang seusai menjual koran seperti biasanya. Ketika setibanya ia di rumah didapatinya sang adik sedang sakit panas. Ibunya pun kebingungan karena semakin lama panas badannya naik. Ibunya pun menjadfi khawatir, mereka ingin membawa Tina adik Toni ke puskesmas setempat namun mereka tidak memiliki biaya. Lalu Toni dengan sekuat tenaga mencari pekerjaan tambahan sebagai tukang semir sepatu. Hingga ia bisa membawa adiknya ke puskesmas. Ia lakukan itu semua karena ia sangat menyayangi adik-adiknya.
            Tetapi, lagi-lagi Toni harus bersedih karena ia harus diberhentikan dari sekolah karena belum membayar SPP selama 4 bulan, hal ini menambah penderitaan Toni. Ia sangat sedih karena ia ingin menjadi Dokter. Dengan bersekolahlah ia dapat memuwudkan cita-citanya itu. Mengapa ia ingin menjadi dokter? Karena ia ingin sekali menjadi dokter di desanya agar bisa mengobati warga desanya yang sakit secara gratis, karena ia tau bahwa warga di desanya itu banyak yang tidak mampu. Sungguh mulia cita-cita yang ingin Toni lakukan. Semua yang ingin ia lakukan selalu demi keluarganya dan demi kepentingan umum bukan untuk dirinya sendiri.
            Setelah bekerja keras selama beberapa bulan, akhirnya Toni dapat melanjutkan kembali pendidikannya di bangku sekolah. Ia bekerja dengan penuh semangat untuk membayar SPP sekolahnya itu. Walaupun ia harus mengorbankan masa remaja dengan bekerja bukan dengan bermain bersama teman-teman seusianya.
            Suatu hari, Toni berjualan koran seperti biasanya, namun kali ini koran Toni laris manis. Tiba-tiba ketika ia tengah menjajakan koran, ada seorang lelaki berlari-lari dan tiba-tiba saja, lelaki itu melemparkan dompet kepadanya. Kemudian lelaki itu berlalu. Lalu dipungutlah dompet itu oleh si Toni, sambil kebingungan ia memegang dompet itu. Tiba-tiba, datang sekelompok massa sambil berteriak “Copet-copet”. Dan ketika massa melihat Toni memegang dompet itu mereka pun langsung menghakimi Toni begitu saja, Toni dihakimi hingga babak belur, dalam keadaannya setengah pingsan massa pun membawa Toni ke kantor polisi.
            Tiba di kantor polisi, Toni pun langsung diintrogasi oleh petugas kepolisian. Toni kemudian ditahan sementara untuk mengumpulkan bukti dan saksi-saksi mata. Tak lama setelah itu, ibu Toni pun datang ke kantor polisi sambil menangis memeluk Toni, ia tidak percaya sedikitpun mendengar Toni mencuri. Toni lalu menceritakan kejadian sebenarnya pada ibunya dengan kesedihan yang meluap-luap. Sang ibu sangat percaya bahwa anaknya tidak mencuri. Namun setelah mendengar keterangan dari saksi mata di dekat lokasi kejadian, Toni pun dinyatakan tidak bersalah dan dikeluarkan dari tahanan. Toni pun diizinkan untuk pulang.
            Beberapa hari kemudian, setelah kejadian penahanan itu Toni pun berjualan koran kembali, karena ia sadar bahwa ia tetap harus mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya walaupun ia belum sembuh total karena dihakimi oleh massa kemarin. Ia masih terlihat sedikit trauma, sang ibu hanya berpesan agar ia lebih berhati-hati lagi ketika berjualan, karena sang ibu tidak ingin kejadian seperti kemarin terjadi lagi pada anak kesayangannya itu. Toni pun berjualan di simpang lampu merah seperti biasanya. Pada saat itu Toni melihat seorang anak kecil tengah berlari ke tengah jalan raya untuk mengejar balonnya yang terlepas dan terbang. Pada saat anak itu berlari, ada mobil yang datang dari arah berlawanan. Dan Toni langsung menjatuhkan korannya kemudian berlari menarik anak itu. Anak itu langsung jatuh dan menangis karena trauma dan tangannya lecet. Setelah itu datang seorang kakek-kakek berpakaian rapi seperti seorang Direktur. Sang kakek mengucapkan banyak terimakasih kepada Toni karena telah menolong cucunya. Sang kakek pun mengajak Toni kerumahnya yang terletak ditengah-tengah kota. Rumah sang kakek besar sekali. Toni tidak pernah menyangka bahwa ia tengah berada di rumah sebesar ini. Ia senang sekali dapat menolong anak kecil tadi. Sang kakek pun mengajak Toni berbincang-bincang. Sang kakek ingin membalas budi Toni atas pertolongannya pada sang cucu. Setelah berbincang-bincang lama Toni tidak ingin budinya dibalas, tetapi sang kakek memaksanya. Akhirnya ia pun mengutarakan maksudnya untuk mendirikan jembatan yang setidaknya layak untuk digunakan warga desanya dalam beraktifitas ke kota. Sang kakek senang melihat keinginan Toni yang lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Dan sang kakek pun bersedia menjadi donatur pembangunan jembatan untuk desa Toni. Tidak hanya itu sang kakek pun mengangkat Toni sebagai anak. Ia ingin menyekolahkan Toni dan mewujudkan cita-cita Toni yang ingin menjadi Dokter untuk warga desanya kelak. Toni bahagia sekali mendengar hal ini. Ia tidak menyangka dengan kebaikannya ia dapat membuat keluarganya serta orang lain bahagia. Sang kakek percaya bahwa Toni dapat mejadi pemuda harapan bangsa.



Dwi Prasetyaningsih Maryadi

Kelas X Akuntansi 1 SMKN 2 Legenda Malaka, Batam.

Rabu, 21 Januari 2015

Cerpen "Ketika Sehat Itu Mahal"


 “Ketika Sehat Itu Mahal”


                “Hassscccccccim.....” suara bersin pun terdengar menggelegar dikelas yang sunyi oleh pelajaran produktif. Suara bersin pun tak lama terdengar bersahut-sahutan.
                Dan ternyata biang dari semua ini merupakan ulah Vania yang merupakan murid kelas 10 disebuah sekolah negeri. Ya Vania merupakan penyebar utama virus flu ini. Vania tidak hanya terkenal dengan anak yang paling sering terkena flu dikelas. Dalam sebulan bisa dihitung jari kondisi kesehatan Vania itu baik. Teman-teman sekelas Vania pun mulai jengkel melihat Vania yang selalu membuat orang menjadi terjangkit oleh Virus RNA yang dibawa olehnya, maklum saja Flu berasal dari famili Orthomyxoviridae yang merupakan penyakit menular. Namun mereka tidak berani menanyakan mengapa Vania selalu terkena flu, hal ini dikarenakan Vania memiliki sifat pendiam dan tertutup. Tentu saja teman-temannya menjadi segan. Vania pun hanya bisa tertunduk ketika dirinya selalu bersin-bersin setiap saat.
                Keesokkan harinya, tepatnya dihari Sabtu telah menjadi rutininas setiap Sabtu pagi disetiap sekolah untuk melaksanakan Senam pagi. Seluruh siswa dan siswi pun membentuk barisan untuk melakukan “Senam Kebugaran Jasmani”. Ada hal yang membuat  murid kelas 10 merasa aneh pada hari ini karena tiada suara bersin yang menemani Sabtu pagi mereka disekolah. Mengapa? karena Vania tidak masuk sekolah. Padahal biasanya walaupun Vania sakit, namun ia pasti selalu hadir disekolah, karena ia tidak ingin ketinggalan pelajaran sekolah. Akhirnya seusai senam mereka pun segera menemui walikelas mereka untuk menanyakan kabar Vania, jawaban sang walikelas pun sontak mengejutkan. Vania masuk rumah sakit dan telah di opname dari kemarin seusai pulang sekolah.
                “Vania lo apa kabar? Kami kangen banget sama elo tau gak?! Kelas sepi banget tanpa suara bersin elo!”
                Setelah satu jam menjenguk Vania, mereka ternyata telah mengenal Vania yang sesungguhnya. Vania menceritakan semua isi hatinya pada teman-temannya. Teman-teman Vania pun sadar bahwa Vania tidak salah sepenuhnya. Vania juga merasa hidupnya menjadi terganggu oleh Flu yang tak kunjung sembuh itu.

                Di hari selanjutnya mereka pun datang kerumah Vania yang terletak tak jauh dari sekolah mereka, disana mereka dapat melihat langsung kondisi rumah Vania yang banyak terdapat unggas milik ayahnya. Ayah Vania merupakan kolektor Burung, namun ada hal yang disayangkan, kondisi disekitar rumah Vania itu tidak higienis, sehingga Vania lah yang menjadi korbannya. Rumah Vania kelihatan kurang terawat dengan baik. Hal ini yang menyebabkan Vania menjadi sering terkena Flu. Udaranya tidak segar dan Vania pun enggan memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya, hingga ia harus dirawat dirumah sakit dan tidak dapat mengikuti pembelajaran disekolah. Vania merasa rugi dan ia pun akhirnya sadar bahwa ia harus selalu menjaga kebersihan sekitarnya dan kesehatan itu sangat mahal harganya. Mengapa? Karena dengan kondisi yang sehat ia dapat melakukan aktifitasnya dengan baik tanpa terganggu, tidak seperti terbaring seperti sekarang ini diRumah Sakit. Dan Vania pun berjanji akan menjadi pribadi yang lebih sehat setelah ia keluar dari Rumah Sakit.